MENEMBUS SELEKSI KETAT G TO G, ALUMNI FAKULTAS KEPERAWATAN USK RESMI BERTOLAK KE JERMAN
Kesempatan berkarier di luar negeri menjadi impian banyak tenaga kesehatan Indonesia. Bagi Tria Fitri Deswinda Wati, alumni Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (USK), impian tersebut akhirnya terwujud setelah berhasil lolos dalam Program Government to Government (G to G) Jerman, sebuah program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman yang membuka peluang bagi tenaga kesehatan Indonesia untuk bekerja di berbagai fasilitas kesehatan di negara tersebut.
Tria mengaku pertama kali mengetahui informasi mengenai Program G to G dari seorang rekan kerja yang telah lebih dahulu mengikuti program tersebut. Informasi tersebut kemudian mendorongnya untuk mencoba mengikuti proses seleksi yang dikenal memiliki tahapan yang panjang dan kompetitif.
Langkah awal yang harus dilalui adalah membuat akun pada Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI), kemudian melengkapi seluruh dokumen yang dipersyaratkan untuk mengikuti seleksi administrasi. Menurut Tria, tahap ini menuntut ketelitian tinggi karena setiap detail dokumen akan diperiksa secara cermat.
Perjalanan Tria tidak selalu berjalan mulus. Pada kesempatan pertama, ia sempat dinyatakan tidak lulus seleksi administrasi karena terdapat ketidaksesuaian pada salah satu dokumen yang diunggah. Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia kembali mendaftar pada pembukaan batch berikutnya dengan memperbaiki seluruh persyaratan administrasi hingga akhirnya berhasil lolos ke tahap selanjutnya.
Setelah dinyatakan lulus seleksi administrasi, Tria mengikuti wawancara bersama tim selektor dari Jerman. Proses wawancara dapat dilakukan menggunakan bahasa Indonesia dan peserta juga dapat memanfaatkan jasa penerjemah apabila diperlukan. Namun demikian, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris maupun bahasa Jerman menjadi nilai tambah yang dapat meningkatkan peluang peserta.
Keberhasilannya melewati tahap wawancara membawanya ke proses pembelajaran bahasa Jerman yang berlangsung lebih dari satu tahun. Selama masa tersebut, seluruh peserta ditargetkan mencapai kemampuan bahasa Jerman pada level B1, sebagai salah satu syarat utama sebelum dapat bekerja di Jerman.
Usaha dan kerja keras Tria membuahkan hasil ketika ia berhasil lulus ujian bahasa Jerman level B1. Tahap berikutnya adalah wawancara langsung dengan calon pemberi kerja, yakni Universitätsklinikum Heidelberg, salah satu rumah sakit universitas terkemuka di Jerman. Berbeda dengan wawancara sebelumnya, seluruh proses pada tahap ini dilakukan sepenuhnya menggunakan bahasa Jerman sebagai bentuk evaluasi terhadap kemampuan bahasa sekaligus kesiapan peserta untuk bekerja di lingkungan internasional.
“Salah satu pertanyaan yang paling saya ingat saat itu berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan profesionalisme sebagai seorang perawat yang akan bekerja di Jerman,” ungkap Tria.
Menurut Tria, seluruh rangkaian seleksi dalam Program G to G tidak hanya menguji kelengkapan administrasi, tetapi juga kemampuan bahasa, kompetensi profesional, serta kesiapan peserta untuk beradaptasi dengan budaya dan sistem pelayanan kesehatan di negara tujuan.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 2 Agustus 2026, Tria resmi bertolak ke Jerman untuk memulai babak baru dalam karier profesionalnya sebagai perawat di Universitätsklinikum Heidelberg.
Menanggapi keberhasilan tersebut, Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Teuku Tahlil, S.Kp., M.S., menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas capaian yang diraih Tria. Menurutnya, keberhasilan alumni menembus pasar kerja internasional melalui Program G to G Jerman menjadi bukti bahwa lulusan Fakultas Keperawatan USK memiliki kompetensi, profesionalisme, dan daya saing yang mampu bersaing di tingkat global.
“Kami mengucapkan selamat kepada Tria Fitri Deswinda Wati atas keberhasilannya bergabung dalam Program G to G Jerman. Pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras, ketekunan, dan komitmen yang luar biasa. Kami berharap Tria dapat menjalankan tugas dengan penuh integritas, menjaga nama baik Indonesia dan almamater, serta memberikan pelayanan keperawatan yang profesional sesuai standar internasional,” ujar Prof. Teuku Tahlil.
Ia menambahkan, keberhasilan Tria diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni Fakultas Keperawatan USK lainnya untuk terus meningkatkan kompetensi, khususnya kemampuan bahasa asing, keterampilan klinis, dan kesiapan menghadapi tantangan di dunia kerja global.
“Fakultas Keperawatan USK akan terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing internasional. Kami berharap semakin banyak alumni yang mengikuti jejak ini dan mampu menunjukkan kualitas perawat Indonesia di berbagai negara,” tambahnya.
Keberangkatan Tria ke Jerman menjadi salah satu bukti nyata bahwa lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala memiliki peluang yang luas untuk mengembangkan karier di tingkat internasional melalui berbagai program kerja sama global. Kisah perjuangan Tria juga menjadi inspirasi bahwa kesempatan untuk berkiprah di dunia internasional dapat diraih melalui kerja keras, ketekunan, semangat pantang menyerah, serta komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi diri.
